iden
Get Adobe Flash player

Gaya Hidup
Typography
LIFESTYLE ● KESEHATAN - Sebuah penelitian menunjukkan wanita yang bekerja lebih dari 40 jam seminggu selama 30 tahun dapat meningkatkan risiko kematian awal.

Bekerja lebih dari 60 jam, bisa tiga kali lipat berisiko penyakit jantung, kanker, diabetes dan arthritis. Sebanyak 72 persen yang mengikuti studi mengaku menghabiskan lebih dari 40 jam di tempat kerja, hasil penelitian menunjukkan mereka menyimpan masalah-masalah kesehatan yang besar untuk di kemudian hari.

Namun anehnya, jam kerja yang panjang tampaknya meningkatkan risiko penyakit pada wanita, tapi tidak secara dramatis pada pria.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hasil kerja yang dipaksakan akan menimbulkan gejala stres, tidur dan masalah pencernaan, tapi ini adalah yang pertama dalam temuan konklusif antara jam kerja yang panjang, penyakit serius akan mengancam kehidupan.

Sebuah tim dari Universitas Negeri Ohio, disebut juga sebagai Negeri Ohio atau OSU, adalah sebuah universitas riset publik di Columbus, Ohio yang menganalisa statistik dari 7.500 orang selama periode 32 tahun.

Pria tampaknya tidak menghadapi tekanan seperti peningkatan yang ditandai dalam risiko penyakit. Bahkan, mereka yang bekerja 41 hingga 50 jam per minggu benar-benar memiliki risiko yang lebih rendah dari penyakit jantung dan paru-paru serta depresi dibandingkan mereka yang bekerja 40 jam atau lebih sedikit.

Namun, pada pria memang terlihat peningkatan mengalami kasus arthritis (radang sendi) dalam jam kerja lembur.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perempuan memiliki waktu lebih untuk memperhatikan keluarga, dan kerap menghadapi tekanan dan stres daripada pria ketika waktu mereka bekerja berjam-jam.

Penulis utama Profesor Allard Dembe dari Universitas Negeri Ohio, menunjukkan statistik perempuan yang bekerja lembur mungkin kurang memuaskan karena faktor kebutuhan penyeimbangan tuntutan pekerjaan dengan kewajiban keluarga.

"Pada umumnya, orang-orang tidak akan berpikir banyak tentang bagaimana pengalaman kerja awal mereka, hal tersebut juga mempengaruhi
mereka," katanya.

Dia juga mengatakan, hal itu dalam kepentingan pengusaha untuk memastikan bahwa pekerja mereka sehat, dan ia meminta pemerintah sebagai regulator untuk mengatasi budaya over-kerja.

"Perempuan berusia 20-an, 30-an dan 40-an agar mampu mengatur diri mereka untuk mengatur masalah ini di kemudian hari," jelas Profesor Dembe.

Dia juga menyarankan agar dapat mengatur jadwal yang lebih fleksibel, pembinaan kesehatan di tempat kerja, dan pemeriksaan kesehatan serta dukungan dalam pekerjaan dapat mengurangi risiko dampak kesehatan.

Hanya 28 persen pekerja benar-benar bekerja kurang dari 40 jam seminggu. Sedangkan 56 persen yang bekerja rata-rata 41 sampai 50 jam,
kemudian 13 persen yang bekerja rata-rata 51-60 jam, dan 3 persen rata-rata lebih dari 60 jam kerja.

Statistik ini berasal dari Biro Program Tenaga Kerja Amerika Serikat, Longitudinal Survey of Youth National 1979, dengan peneliti mewawancarai karyawan tentang kebiasaan kerja dan sejarah medis.

Profesor Dembe memperingatkan bahwa studi ini melihat dari sosok orang-orang yang memiliki versi penyakit ini, kemungkinan disinyalir adanya bahaya yang lebih besar berdampak risiko seumur hidup.

"Serangan awal dan identifikasi penyakit kronis tidak hanya mengurangi harapan hidup dan kualitas hidup secara individu, tetapi juga meningkatkan biaya perawatan kesehatan dalam jangka panjang," kata dia.

Ada beberapa keterbatasan dalam temuan studi, hal tersebut sebelumnya tidak memperhitungkan mereka yang bekerja berjam-jam selama dalam kehidupan, tetapi sebaliknya berfokus pada jam-jam yang diperpanjang secara konsisten artinya bekerja lebih dari 30 tahun, sudah saatnya untuk mengurangi jadwal pekerjaan.

Hal ini juga tidak memperhitungkan perbedaan antara pekerjaan wajib dan pekerjaan lembur, demikian kutipan melalui Daily Mail, bahwa Profesor Dembe mengungkapkan perbedaan dalam kesehatan.

"Anda mungkin masih bekerja keras, namun fakta itu adalah pilihan Anda yang mungkin juga membantu Anda untuk tetap bugar," ulasnya dalam temuan medis.

Penemuan ini dipublikasikan dalam majalah medis (Pekerjaan dan Lingkungan), Journal of Occupational and Environmental Medicine.

Apresiasikan Berita

Komentar

:
Google-adsense-logo-125.png

BULETIN POPULER