iden
Get Adobe Flash player

Nasional - Politik
Typography

Polisi anti-teror Indonesia (Densus 88) mengawal bahan peledak dan bukti lain yang disita dalam penggerebekan tersangka militan di Mabes Polri di Jakarta, 30 November 2016. REUTERS / Beawiharta.

 

DELIK POS ● JAKARTA - Lonjakan serangan infiltrasi dan perencanaan misi oleh kelompok militan ekstrimis jihadis dalam dunia pertempuran mendapat perhatian khusus dari satuan anti-terorisme Indonesia untuk membendung gelombang serangan berdarah di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia ini.

Indonesia telah menggagalkan sedikitnya 14 serangan di tahun ini dan lebih dari 150 penangkapan, disertai berbagai aksi perencenaan serangan bunuh diri di Jakarta hingga serangan roket yang akan diluncurkan dari pulau Batam menuju Singapura sebagai negara target.

Analisis data Reuters pada 2010 menunjukkan bahwa satuan elit, Detasemen Khusus 88 (Densus 88) telah melaksanakan penegahan dari 54 aksi perencanaan atau serangan di negara Indonesia yang berpenduduk 250 juta orang, dan keempat terbesar di dunia.

"Densus 88 telah melaksanakan tugasnya," kata Greg Barton, profesor ekspor terorisme dan penelitian Politik Islam Global di Alfred Deakin Institute di Melbourne.

Dalam enam tahun terakhir, infiltasi serangan besar terjadi di Indonesia dan mengakibatkan jatuhnya korban kematian dari warga sipil di sebuah mal di Jakarta. Empat orang terduga pelaku penyerangan dinyatakan tewas dalam serangan tersebut pada Januari 2016.

Antara 2002 sampai 2009, terjadi sembilan serangan besar oleh militan yang mengakibatkan 295 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Sejak di kukuhkan pada 2002, satuan elit tersebut telah melaksanakan gerakan taktis pengumpulan data (puldata) intelijen secara klandestin. Namun saat ini cara kerja intelijen dilakukan secara online, dengan pemantauan "chat room", media sosial dan aplikasi populer "messaging".

"Kami membangun, dan belajar dari musuh," kata seorang perwira senior kontra-terorisme yang jatidirinya dirahasiakan.

Setelah peristiwa mematikan bom Bali pada 2002, dan telah menewaskan lebih dari 200 orang, Densus 88 memiliki sekitar 400 sampai 500 personil organik berikut persenjataan dan pelatihan. Densus 88 telah menerima lebih dari 200 juta dolar dana operasional dari sekutu Barat seperti Australia dan Amerika Serikat.

Menurut sumber instansi penegak hukum, unit ini dipimpin oleh Gugus Tugas (satuan inti) dari 30 atau lebih anggota senior.

"Sebagian dari mereka memiliki gelar doktor dan memiliki spesialisasi psikologi dan perilaku sosial. Mereka tidak seperti polisi biasa," tambah sumber tersebut. 

Sidney Jones, direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC), mengatakan kunci keberhasilan Densus 88 terletak pada pengumpulan data (puldata) intelijen.

"Mereka mampu menditeksi jaringan radikal dan memiliki kualitas "set informan". Hal ini tak tertandingi dalam kemampuan mencermati kemungkinan sumber ancaman," kata dia.

Strategis Investigasi

Densus 88 telah lama dituding oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia atas aksi pelanggaran, termasuk dugaan penganiayaan separatis.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia telah mengidentifikasi 121 tersangka terorisme yang tewas dalam tahanan sejak 2007, namun pihak Kepolisian menampik menerapkan sistem penyiksaan atau kekerasan yang tidak pantas ketika interogasi berlangsung.

Amnesty International mengatakan awal tahun ini adanya "budaya impunitas endemik" di kepolisian Indonesia untuk kebutuhan penyelidikan atas "penyiksaan" terhadap tersangka oleh Densus 88.

Namun, Barton mengatakan unit tersebut telah mengadopsi sistem "strategis" guna pendekatan interogasi untuk dukungan pengumpulan data intelijen. Tersangka di endapkan di kantor polisi setempat, bukan di penjara dan diizinkan untuk bertemu keluarga mereka.

"Sistem ungkapan berbicara (dialek) merupakan cara yang efektif untuk mendapatkan data intelijen," kata Barton.

Meskipun keberhasilan Densus 88 baru-baru ini, juga menimbulkan ke khawatiran ancaman serius dari kelompok militan ekstrimis jihadis Negara Islam yang bangkit dari medan laga di Irak dan Suriah.

Menurut kantor anti-terorisme nasional, sekitar 800 orang warga Indonesia telah meluncur ke Suriah untuk bergabung ke Negara Islam dan 169 orang lainnya telah dihentikan dalam perjalanan dan dideportasi.

Dalam dua bulan terakhir, terjadi 38 penangkapan, dan setidaknya lima serangan digagalkan menurut penelitian Reuters yang telah mengumpulkan data dari bantuan staf IPAC.

Perencanaan misi ini telah dikaitkan dengan nama yang dikenal Negara Islam (ISIS atau NIIS), dan terafiliasi ke komando Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias "Bahrum Naim" seorang pendekar militan Indonesia yang melarikan diri ke Suriah sekitar dua tahun yang lalu.

"Kelompok ekstremis jihadis atau teroris lokal ini tidak pernah ke luar negeri. Namun dengan munculnya teknologi era internet seperti media sosial, mereka lebih mudah merakit bom dan bahan peledak untuk misi operasi," kata sumber yang berwenang.

Pihak berwenang tetap mengkhawatirkan, terutama selama menjelang musim liburan.

Ke-khawatiran akan kemungkinan kembalinya pendekar Negara Islam seperti Bahrum Naim sangat di waskita.

"Dia akan menjadi sosok yang berbeda dari teroris lainnya, dan tentunya menjadi masalah besar dari pihak kepolisian," kata analis Rakyan Adibrata.

Apresiasikan Berita

Komentar

:
Google-adsense-logo-125.png

BULETIN POPULER