iden
Get Adobe Flash player

Jejak Kasus
Typography

Seorang aktivis memakai topeng Munir pada rapat dengar pendapat dengan Komisi Informasi Pusat di Jakarta pada 10 Oktober (Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay) 

DELIK POS ● JAKARTA - Pemerintah menunggu hingga laporan kehilangan dokumen penyelidikan atas kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib ditemukan dan diserahkan ke Kejaksaan Agung sebelum diputuskan apakah atau tidak untuk dilanjutkan penyidikan dalam kasus ini.

File yang diserahkan ke mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono - SBY, oleh tim pencari fakta independen pada 2005, dinyatakan hilang awal bulan ini setelah Komisi Informasi Pusat memerintahkan Sekretariat Negara untuk membuat dokumen publik dalam menanggapi gugatan yang diajukan oleh Komisi untuk orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Sekretariat Negara mengklaim file-file tersebut tidak disimpan di kantor pusat, dan menyanggah tuduhan bahwa file salah penempatan posisi ketika SBY berada di kantor.

SBY membantah tuduhan itu, ia optatif untuk bekerjasama membantu Presiden Jokowi mengupas penggagas pembunuh Munir dengan memberikan salinan dokumen ke Istana.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengatakan, pemerintah akan mempelajari dokumen sebelum mengambil langkah lebih lanjut dalam kasus ini, termasuk apakah atau tidak untuk dilanjutkan penyelidikan.

"Dokumen-dokumen berisi data dan informasi akan dipelajari oleh Kejagung. Kami akan menunggu mereka untuk meneliti dan menganalisa kasus ini," kata Wiranto dalam konferensi pers "Dua Tahun Administrasi Jokowi-Kalla" di Jakarta, Rabu ( 26/10).

Juru bicara Presiden Johan Budi mengatakan dokumen tim pencari fakta harus berisi bukti potongan baru jika penyelidikan pembunuhan itu dilanjutkan.

Namun demikian, Johan mengatakan Jokowi masih berniat untuk memecahkan kasuistik pembunuhan itu menurut hukum.

Aktivis telah lama menuntut pemerintah agar menyingkap tabir pembunuh Munir yang sebenarnya. Munir, aktivis yang diracun dengan arsenik ketika dalam penerbangan singkat dari Singapura menuju Amsterdam, Belanda pada 2004.

Mantan pilot Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi hukuman 14 tahun penjara karena terlibat pembunuhan berencana dalam kasus ini, namun diduga dalang pembunuhan masih belum diketahui.

Hasil investigasi oleh tim pencari fakta tidak pernah dipublikasikan.

Jakarta Globe ● Tanjung Paparazzi

Apresiasikan Berita

Komentar

:
Google-adsense-logo-125.png

BULETIN POPULER