iden
Get Adobe Flash player

Jejak Kasus
Typography

Kapal Motor KM Mulya Abadi GT 34 Nomor 58/RRd yang bersandar di Lantamal Batam,  Minggu (18/9/2016). (foto:dok)

Menyingkap Tabir Penyelundupan, Mengupas Dugaan Keterlibatan Oknum TNI-AL    

DELIK POS ● BATAM - Penghargaan cenderamata, bonus hingga Rp1 miliar seperti dinazarkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bagi individu dan kelompok yang mampu menyingkap tabir dan membantu menindak pelaku pelanggaran di kepabenaan dan cukai ternyata hanyalah isapan jempol belaka, tampaknya tidak menarik perhatian para-sena Lanal Batam, Kepulauan Riau sebagai defensif gugus pulau terluar Indonesia.

Menyelisik kronologis penegahan Kapal Motor KM Mulya Abadi GT 34 Nomor 58/RRd oleh Tim reaksi cepat Western Fleet Quick Response (WFQR) TNI-AL/IV Tanjungpinang, menurut Ketua LSM Barelang Yusril Koto, kapal tersebut kandas di perairan Sungai Belian Batam pada posisi Koordinat Lintang Utara 01° 09′ 32 ” LU – 104° 04′ 16″, berangkat dari Singapura menuju Batam, Minggu (18/9/2016) lalu.

"Persoalan mendasar, mengapa hanya Idris sebagai (Kapten Kapal) yang dijadikan tersangka, sementara Saleh Thoubah yang bertanggung jawab penuh atas ke-90 ton beras bermerek 'anak terbang' dan 'gula' ilegal itu hanya berstatus saksi," kata Yusril, Sabtu (15/10/2016) di Batam Center.

Dia menduga adanya sejumlah oknum Lanal Batam terlibat bermain dengan penyeludup beras dan gula. 

Senada dipaparkan Rusli selaku pemilik Kapal KM Mulya Abadi yang berharap kepastian hukum itu, ia membenarkan KM Mulia Abadi disewakan kepada Saleh Thouba selama 30 hari terhitung 13 September 2016 sampai dengan 13 Oktober 2016. Demikian pula uang sewa yang disepakati sesuai perjanjian termaktub di kertas bermaterai sebesar Rp50 juta.

"Saya tidak tahu kalau kapal itu disewa untuk melakukan penyelundupan. Kenapa harus kapal saya yang ditahan sementara pemilik barang bebas," kata dia.

Menanti Kepastian Hukum dan Keadilan, Rusli, pemilik Kapal KM Mulya Abadi menunjukan dokumen kapal.(foto:dok)Berdasarkan surat perjanjian sewa menyewea kapal disaksikan Notaris Wirlisman SH, Rusli mengatakan, uang sewa yang sudah ia terima baru Rp10 juta, "Sisanya Rp40 juta belum dibayar dengan jaminan surat tanah yang terletak di RT03/RW01 Dusun IV Dabit Sidumolyo, Kelurahan Sawang Selatan, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Tanjung Balai Karimun." ujarnya.

Menurut dia, KM Mulia Abadi mampu mengangkut beban seberat 130 ton. Tetapi untuk keamanan berlayar, beban bersih yang dimuat mencapai 125 ton.

"Dokumen kapal itu lengkap. Kalau tak ada dokumen tak mungkin orang berani sewa," jelas Rusli.

Yusril mensinyalir bahwa muatan beras dan gula itu lebih dari 90 ton, secara fisik daya angkut tonase kapal tersebut 130 ton, dan juga patut dipertanyakan apakah benar jumlah beras dan gula seludupan yang disita itu diserahkan seluruhnya kepada pihak Bea dan Cukai (DJBC) Batam.

"Saleh Thoubah, merupakan pemain kelompok Sengkoang, secara emosional memiliki kedekatan dan hubungan baik dengan Lanal, karena lokasi bongkar muat gula dan beras seludupan tidak jauh dari dermaga Lanal Batam. Peran Mabes TNI AL dalam hal ini perlu untuk segera turun memeriksa sejumlah oknum terkait yang diduga turut bermain," tegasnya.

Saleh Thoubah, Yusril melanjutkan, dia sudah dua trip lolos mengangkut beras dan gula ilegal menggunakan KM Mulya Abadi, dan trip yang ke tiga ini ditegah Tim WFQR Tanjung Pinang.

“Jika kapal tersebut tidak kandas, dan tentu tidak akan terjadi ditangkap Tim WFQR Tanjung Pinang, maka diyakini 90 ton beras dan gula selundupan itu dipastikan lolos,” ungkap dia memungkas. ● Tanjung

 

Apresiasikan Berita

Komentar

:
Google-adsense-logo-125.png

BULETIN POPULER