iden
Get Adobe Flash player

Opini
Typography
DELIK POS • OPINI - Narsistik merupakan fenomena psikocultural yang merupakan salah satu gangguan kepribadian. Orang dengan gangguan kepribadian ini tampak seperti orang yang memiliki kepercayaan diri atau harga diri yang kuat, namun kepercayaan diri dan harga diri yang kuat itu  melintasi batas normal dan berpikir diri sendiri begitu tinggi dari orang lain. Orang dengan gangguan kepribadian narsistik seperti anak kucing yang merasa segagah singa.

Istilah narsistik ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narcissus, seorang pemuda yang senang memuji diri sendiri. Salah satu versi mitos itu menyebutkan, Narcissus tidak mudah dirayu, dan bahkan suka menolak cinta perempuan. Suatu ketika dia dikutuk, sehingga jatuh cinta kepada bayangannya sendiri.

Itulah sebabnya, kata narsis menggambarkan seseorang yang terlalu mengagumi diri sendiri, percaya diri berlebihan (over confident). Narsis sangat egosentris, senang mencari perhatian atau menarik perhatian orang(MPO). Narsistik adalah perasaan cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri.

Orang yang narsistis cenderung kurang bisa berempati, agresif dalam merespons kritik, dan mengutamakan diri sendiri ketimbang membantu orang lain. Mereka juga tidak bisa membina hubungan yang harmonis dalam jangka waktu lama, berisiko tinggi untuk tidak setia, tidak jujur, dan terlalu mendominasi. Narsisme bisa sangat merugikan karena menghambat hubungan yang dekat dengan orang lain.

Seorang ilmuwan di University of Georgia pernah menyebarkan tes kuesioner kepribadian ke sekitar 130 pengguna Facebook dan menganalisis konten profil mereka. Dari situ bisa diketahui seberapa narsistisnya mereka dan tingkat egonya. Para peneliti itu  mengatakan bahwa jumlah pesan dan postingan di halaman mereka sangat berkorelasi dengan seberapa narsistisnya mereka di dunia nyata.

Fenomena narsistik juga melanda dunia social politik kita. Pola-pola yang dipertontonkan oleh para politisi, tokoh dan penguasa kita  dalam mempromosikan diri secara otomatis membangun citra bahwa gejala narsistis sangat kental dengan dunia politik.

Hal ini dapat dilihat tidak saja pada waktu kampanye Pemilu tetapi juga pada hari-hari biasa, spanduk dan baliho bertebaran di jalan-jalan seolah-olah negeri ini adalah negeri spanduk ataupun baliho. Di sana terpampang foto para tokoh dengan disertai jargon-jargon untuk mengundang simpati. Hampir tidak ada celah untuk informasi lain bagi publik kecuali pemandangan wajah-wajah mereka.

Dalam dunia baru marketing, memang model promosi tidak lagi cukup dengan tips-tips horizontal  yang antara lain meyakini kekuatan word of mouth, kesetaraan, dan prinsip customer to customer, tetapi pemasaran vertical tampaknya diperlukan dengan pemasangan gambar-gambar tokoh populer, seperti Habibi Presiden RI ke III yang menjadi bintang iklan Telkomsel untuk membidik masyarakat sebagai sasaran tembaknya.

Pemasaran vertikal itu dipandang sebagai sikap  narsistis, yang  menganggap masyarakat sebagai objek, sementara  pemasaran horizontal justru memandang masyarakat sebagai subjek yang ikut menentukan keberhasilan.

Pemasaran vertikal ini tercermin dalam sikap tokoh-tokoh politik  kita yang nota bene adalah  pemimpin bangsa. Mereka  mempromosikan diri secara berlebihan yang katanya untuk pencitraan. Menurut hasil penelitian Amy Brunell bahwa kaum narsis memiliki bakat menjadi pemimpin.

Kalau logika itu dibalik, maka pernyataannya menjadi “pemimpin memiliki kecenderungan narsistis”. Nah, kalau kita sepakat dengan pembalikan logika tersebut, maka kita semestinya maklum kalau para pemimpin kita adalah narsistik, lebih berorientasi kepada dirinya sendiri, dan tidak peduli kepada perasaan orang lain, termasuk perasaan rakyat.

Apresiasikan Berita

Komentar

:
Google-adsense-logo-125.png

BULETIN POPULER